Ensiklopedia Dakwah. Lajnah Penyelidikan Dewan Ulamak PAS Selangor

Sabtu, 22 Ogos 2015

4 Kelebihan Muhasabah Diri Dalam Kehidupan


Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya seorang muslim tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang diperturutkan. Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, yang dibangga-banggakan oleh pemiliknya, tidak jarang yang menyalahi kebenaran, tidak sedikit yang bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, seiring waktu yang diberikan Allah kepada manusia di dunia, sepatutnya digunakan untuk memuhasabah segala perilaku dan pemikiran yang dia miliki, sehingga mendorongnya untuk mengoreksi diri ke arah yang lebih baik. 

Di dalam kitab Sahih-nya, Imam al-Bukhari membuka salah satu bab kitab al-Shaum dengan perkataan Abu az-Zinad;
إن السنن ووجوه الحق لتأتي كثيرًا على خلاف الرأي
“Sesungguhnya Sunnah dan kebenaran itu majoritinya bertentangan dengan pendapat peribadi.” (riwayat al-Bukhari)

Oleh karena itu, koreksi diri merupakan hasil yang positif yang ditandai dengan sikap meninggalkan diri dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam sesuatu pendapat dan perbuatan. Di antara jalan yang dapat membantu seseorang untuk dapat muhasabah diri adalah :-

Menerima Nasihat Pihak Lain

Seseorang dapat dibantu untuk muhasabah diri dengan bermesyuarat bersama rakan dengan niat untuk mencari kebenaran. Imam al-Bukhari menceritakan tentang usul Saidina Umar al-Khattab kepada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakar menolak usul Umar tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahawa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakar pun menerima dan mengatakan;
فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ
“Umar sentiasa memujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar.” (riwayat al-Bukhari)

Abu Bakar tidak berkeras dengan pendapatnya ketika terdapat usulan pihak lain yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak lain yang memiliki pendapat berbeza.

Memilih Orang-orang Soleh Sebagai Sahabat

Salah satu cara bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta teman-teman yang soleh untuk menasihati dan mengingatkan kekeliruan kita. Rasulullah bersabda;
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh kerananya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa.” (riwayat al-Bukhari)

Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, anda harus berteman dengan orang-orang yang soleh. Jangan berteman dengan “maddaahin” (orang-orang yang pandai mengampu dengan puja dan puji) yang justeru tidak akan mengingatkan akan kekeliruan saudaranya. Rasulullah bersabda;
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang ketua, maka Allah akan memberinya seorang timbalan yang jujur yang akan mengingatkan pemimpin tersebut jika dirinya lalai dan akan membantu pemimpin tersebut jika dirinya sedar.” (riwayat Abu Daud)

Contoh nyata akan hal ini disebutkan dalam kisah al-Hur bin Qais, orang kepercayaan Umar al-Khattab. Pada saat itu, Umar murka dan hendak menghukum Uyainah bin Husn kerana bertindak kurang ajar kepada beliau, maka al-Hur berkata kepada Umar;
يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ
“Wahai amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada Nabi-Nya; Berikan maaf, perintahkan yang baik dan berpalinglah dari orang bodoh. Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh. Perawi hadis ini mengatakan; Demi Allah Umar tidak menentang ayat itu saat dibacakan kerana ia adalah orang yang sentiasa tunduk terhadap al-Quran.” (riwayat al-Bukhari)

Betapa banyak kezaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang salah dapat diperbetulkan ketika teman-teman yang soleh menjalankan peranannya.

Mengasingkan Diri Untuk Memuhasabah Diri

Salah satu bentuk muhasabah diri yang paling berkesan adalah menyendiri untuk melakukan muhasabah dan mengoreksi berbagai amalan yang telah dilakukan. Diriwayatkan dari Umar al-Khattab, beliau mengatakan;
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab.” (riwayat al-Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata;
لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ
“Seorang Hamba tidak dikatakan bertakwa sehinggalah dia memuhasabah dirinya sebagaimana dia memuhasabah rakan-rakannya.” (riwayat al-Tirmidzi)

Muhasabah diri memiliki beberapa faedah yang baik dalam kehidupan, di antaranya ialah;
  • Dihilangkan musibah dan hisab diringankan
Orang yang muhasabah diri akan terangkatnya musibah dan diringankan hisab pada hari kiamat. Umar al-Khattab mengatakan;
وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا
“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.” (riwayat al-Tirmidzi).

Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh aspek kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama. Sebagaimana sabda Nabi;
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zalim), redha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), nescaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada ajaran agama.” (riwayat Abu Daud)
  • Hati terasa lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia
Dalam sebuah hadis yang panjang dari Ibnu Mas’ud disebutkan (terjemahannya); “Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya tengah mengelamun. Dia menyedari bahawa kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperolehi rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan khabar akan kesolehannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasihatnya. Sang raja pun berkata kepadanya; Keperluan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga diperlukan oleh diriku. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah bersama-sama.” (riwayat Ahmad)

Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk memperbaiki keinginan untuk memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.
  • Muhasabah diri akan memperbaiki hubungan sesama manusia
Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi di antara manusia. Rasulullah bersabda;
إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تُفْتَحُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوهُمَا حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Sesungguhnya pintu-pintu syurga dibuka pada hari Isnin dan Khamis, kedua-dua hari tersebut seluruh hamba diampuni kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan; Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai.” (riwayat Ahmad)
  • Muhasabah diri akan membebaskan diri dari sifat munafik
Muhasabah diri yang telah dilakukan merupakan salah satu sebab dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan;
مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا
“Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khuatir jika ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya).”

Ibnu Abi Malikah juga berkata;
أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ
“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi saw, mereka semua mengkhuatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahawa keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail.” (riwayat al-Bukhari).

Ketika mengulas perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan;
إِنَّمَا خَافُوا لِأَنَّهُمْ طَالَتْ أَعْمَارُهُمْ حَتَّى رَأَوْا مِنَ التَّغَيُّرِ مَا لَمْ يَعْهَدُوهُ وَلَمْ يَقْدِرُوا عَلَى إِنْكَارِهِ فَخَافُوا أَنْ يَكُونُوا دَاهَنُوا بِالسُّكُوتِ
“Mereka khuatir kerana telah memiliki umur yang panjang hingga mereka melihat berbagai kejadian yang tidak mereka ketahui dan tidak mampu mereka ingkari, sehingga mereka khuatir jika mereka menjadi seorang penjilat dengan sikap diamnya.” (Fath al-Baari 1/111)

Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahawa dirinya tidak berada di posisi yang selamat dan seharusnya dia bermuhasabah bahawa tidak mungkin dia bebas dari dosa dan kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk memperbaiki diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah berfirman dalam Surah al-Ra’d, ayat 11;
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri.”

Ya Allah jadikan kami sebagai hamba-Mu yang mampu muhasabah diri. Mudah-mudahan membawa manfaat kepada amalan kami serta bermanfaat untuk semua.

Biodata Penulis

Ustaz Sihabuddin Muhaemin (USM). Kritik dan saranan yang membina sangat dialu-alukan. SMS (012-6653988) atau layari laman facebook USM - Sihabuddin Muhaemin

  1 ulasan:

  1. Alhamdulillah terima kasih syeikh
    untuk ilham kultum saya minggu depan insha Allah

    BalasPadam

POPULAR POSTS

RECENT POSTS

    Total Pageviews